Batin Isu Sosial Itu Justru Kutahu dari Puisi

0
471
Denny Januar Ali atau lebih dikenal Denny JA (Istimewa)

Batin Isu Sosial Itu Justru Kutahu dari Puisi
(Puisi Esai Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten)

Oleh:Denny JA
Sebagai peristiwa, sudah lama saya mendengarnya. Sebagai isu sosial, beberapa kali saya sempat baca. Tapi batin manusia yang berada dalam peristiwa itu saya rasakan dalam puisi ini. Mimpi, luka, harapan para pelaku dalam isu sosial tersebut saya tangkap melalui puisi itu.

Kesan ini kuat sekali saya rasakan. Dua hari ini saya habiskan waktu membaca 16 puisi esai, puisi yang panjang dari tiga propinsi besar: Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten. Sebanyak 16 puisi esai siap terbit menjadi tiga buku.

Total akan terbit 170 puisi esai dari 34 propinsi, satu propinsi satu buku, lima isu. Sebanyak 170 penulis, penyair, peneliti, dan jurnalis serentak merekam jeritan hati, luka, mimpi masyarakatnya. Membaca keseluruhan puisi di 34 propinsi, kitapun melihat batin Indonesia.

Untuk keperluan itu, semakin terasa betapa puisi esai memang medium yang sangat pas. Puisi esai selalu memotret sebuah peristiwa sosial yang memang terjadi di dunia nyata. Ada catatan kaki di sana sebagai sumber referensi jika kita ingin mengeksplorasi.

Puisi itu juga minimal 2000 kata. Cukup panjang puisi itu untuk ekspresikan drama, dinamika batin, dan perubahan suasana. Walau penuh kisah nyata dan fakta, tapi ia tetap puisi. Ada fiksi di sana karena yang digali kemudian adalah subyektivitas pelaku yang mengalami peristiwa sosial itu.

Ketika puisi esai pertama kali diperkenalkan di tahun 2012, kekuatan puisi ini belum terasa. Namun ketika ada kebutuhan mengekspresikan batin Indonesia di 34 propinsi yang belandaskan kisah nyata, kekuatan puisi esai mencuat dan meledak.

Dengan membaca puisi esai, kita tak hanya mendapatkan suasa batin. Tapi kita juga terinformasi mengenai sebuah peristiwa sosial yang terjadi di sebuah wilayah.

-000-

Sebanyak 16 peristiwa sosial di tiga propinsi besar telah memperkaya pengetahuan saya. Ternyata seperti itu sisi batin sebuah problem sosial. Isu puisi esai tiga propinsi itu saya ringkaskan di bawah ini.

PROV. Jawa Tengah

1. Handry TM: Kidung Kelam Kasunanan.

Surakarta termasuk sedikit wilayah di Indonesia yang masih memiliki raja. Apa yang terjadi jika dua kakak adik yang berlainan ibu berebut kuasa gelar raja? Puisi ini merekam suasana batin di dalam keraton yang luka. Betapa demokrasi yang tengah berjalan di ruang besar Indonesia tidak tercermin dalam politik keraton kasunanan Surakarta.

2. Gunato Saparie: Dan Darahpun menetes di Kebonharjo.

Kebonharjo nama desa di Jawa Tengah. Desa ini merekam bagaimana modernisasi memakan korban. Kasusnya adalah pembangunan rel kereta api yang menggusur rumah di sepanjang jalan kereta. Banyak pemilih tanah itu sudah turun temurun di sana, memiliki sertikat yang sah.

Derap pembangunan menjadi kompleks ketika melahirkan konflik, yang tak hanya meneteskan air mata. Menetes pula darah.

3. Anggoro Suprapto: Balada Jembatan Layang Cakrawala.

Apa rasanya bertahun tahun hidup di bawah jembatan layang Cakrawala? Awalnya terhampar tanah luas terbengkalai di kota semarang. Penduduk miskin usia 50- 60 tahun, menempatinya.

Datang pemilik modal besar. Dibantu aparat pemerintah berdasarkan hukum, rakyat miskin ini tergusur. Sebagian bertahun tahun melanjutkan hidup di bawah jembatan dengan aneka drama.

4. Roso Titi Sarkoro: Luka Lama Kabut Sindoro Sumbing

Di kabupaten Temanggung, pilkada tak hanya pesta rakyat. Namun berujung pada pemakzulan Bupati dari jabatannya. Puisi ini memotret konflik kekuasaan yang berakibat pada buruknya kehidupan masyarakat di sana.

5. Kamerad Kanjeng: Ngerunkepi Ibu Bumi.

Apa rasanya jika kaki dicor di semen? Ibu padmi melakukan aksi protes mengecor kakinya di semen. Ia pun tewas.

Puisi ini terinspirasi oleh kisah ibu Padmi. Di Gunung Kendeng, kabupaten Rembang, berdiri penambangan bahan semen. Ekologi rusak. Rakyat kecil bergejolak. Namun jeritan rakyat kecil itu tiada daya melawan tangan kekuasaan yang perkasa.

6. Sulis Bambang: Kisah Miliarder Korban Projek Jalan Tol.

Ternyata korban penggusuran projek bisa pula menjadi miliarder. Ini yang terjadi pada penduduk di sekitar jalan tol Semarang-Batang. Mereka tak punya uang. Namun prioyek penggusuran cukup ramah mengganti tanahnya dengan nilai uang berlipat lipat.

Mereka menjadi orang kaya baru. Bahkan sebagian menjadi miliarder. Namun kekayaan ternyata mengubah prilaku. Bagi yang tak siap, menjadi orang kaya baru justru pembuka menuju penderitaan jenis baru.

PROV Jawa Timur

1. Agoez Harystz: Sri, Mengeja Sunyi Dalam Senyuman

Puisi ini tentang kisah mencengangkan Immatul Maisaroh. Ia lahir di desa Kanigaro, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Lepas dari pernikahan yang dipaksa, ia menjadi TKW.

Tak diduga, ia pun menjadi korban perdagangan manusia. Selayaknya komoditi, ia “dijual” ke banyak tempat di aneka negara. Nasib datang tak terduga. Ia tumbuh, belajar dan diangkat menjadi penasehat khusus Gedung Putih, Amerika Serikat, di bawah Presiden Obama.

2. Itonk Mulyadi: Lelaki Kuning dari Lembah Lompongan.

Pantai wisata Pulau Merah, Banyuwangi Selatan, tak hanya memberi keindahan pandangan. Datang pula bencana Tsunami.

Puisi ini mengeksplorasi efek bencana itu pada seorang rakyat kecil. Aneka luka batin dan rugi materi akibat bencana meninggalkan jejak panjang bagi hidup selanjutnya. Ia tumbuh melakukan banyak hal untuk survive hingga dituduh teroris.

3. Viddy Ad Daery: Lapindo, Alam yang Membalas Dendam

Tiada terbayang kehancuran alam yang dibawa bencana lumpur Lapindo. Banyak keluarga luluh lantak. Ia menjadi berita nasional karena massifnya dan panjangnya pergolakan rakyat.

Puisi ini mengeksplorasi ketidak- pedulian manusia pada alam. Bukit dibotaki. Hutan dibakar. Pada gilirannya, ibu alam marah dan membalas dengan bah luapan lumpur raksasa.

4. Suyanto Garuda: Salim Kancil Tumbal Tambang Pasir

Di desa Selok kabupaten Lumajang dikenal dengan budaya yang santun. Tinggi nilai kekeluargaannya. Desa itu memiliki pula pasir anugrah Tuhan yang tinggi nilai ekonominya.

Tak terduga pasir itu justru datangkan bencana kepada sosok petani kecil. Datang penambang pasir besar. Seorang team sukses kepala desa tengah berkuasa. Sang petani melawan hingga hilang nyawa.

5. Endah Pusporini: Kelud Gugat

Rakyat yang tinggal di lereng Gunung Kelud banyak yang Muslim Kejawen. Mereka beragama Islam namun kental bercampur dengan kultur lokal. Turun temurun mereka hidup selaras dengan alam.

Namun zaman berubah. Fenomena tak pernah terjadi sebelumnya: banyak sumur ambles. Warna air menjadi keruh. Gunung Kelud sepertinya marah. Apa sebabnya?

PROV Banten

1. Jodhi Yudono: Baduy, Apa yang Terjadi?

Suku badui di Banten sejak dulu dikenal dengan dengan kultur yang khas. Mereka umumnya penganut sunda wiwitan. Namun zaman mulai mengubahnya. Mereka menjadi seperti orang kota biasa.

Apa yang terjadi dengan suku badui? Mungkinkah suku itu kembali ke akar budaya mereka sendiri?

2. D Pebrian: Seribu Industri di Tanah Benteng.

Puisi ini memotret satu wilayah di Tanggerang. Pembangunan tengah semarak. Aneka pabrik berdiri. Namun terasa ada kesenjangan antara penduduk asli dengan pendatang. Kecemburuan membuat penduduk asli acap berulah.

Suatu ketika seorang muda penduduk asli ditolak bekerja di pabrik, semata karena ia penduduk asli , yang dikenal kurang pendidikan dan tumbuh dalam kultur serba kekurangan. Ia pun pergi ke kota menimba ilmu. Pulang ke Tanggerang, ia memimpin penduduk asli mengubah situasi.

3. Fachrudin Salim: Balada Cinta Perawan Desa

Ini kisah sepotong cinta di desa ujung selatan banten. Generasi baru meninggalkan desa. Pekerjaan tani tak lagi diminati. Banyak yang keluar kota.

Terkisahlah sepasang muda mudi. Di desak oleh kemiskinan, dan kondisi desa yang ditinggalkan, sang gadispun memilih pergi ke kota. Ditinggalkannya pria yang merindu.

4. Saefullah: Keraton Banten

Di kota serang tersimpan kenangan masa silam. Begitu banyak situs sejarah. Ada mesjid putri Ong Tin, keturunan kaisar Tiongkok. Ada Vihara. Ada keraton Kaibon, keraton Surosowan.

Seorang penduduk menyesali perubahan. Situs sejarah semakin lenyap tak terurus. Berganti hadir di Serang aneka mall. Berdiri banyak perumahan.

5. Laura Arkeman: Multatuli

Tanah lebak Banten menjadi terkenal ke seluruh dunia. Kisah wilayah itu direkam dalam karya sastra Max Havelaar, oleh Douwes Dekker. Multatuli nama samarannya.

Puisi ini merekonstruksi kisah cinta Saijah dan Adinda karya Multatuli di sana. Tergambar pula keserakan bupati lebak. Termasuk kisah seorang belanda yang membela rakyat melawan bupati pribumi.

-000-

Sebanyak 34 buku puisi esai akan merekam batin dan peristiwa di 34 propinsi. Ini kerja kolosal yang kelak akan menjadi bahan studi. Serial 34 buku ini bukan saja menjadi bahan peminat sastra mendalami satu jenis puisi, puisi esai.

Tapi dalam serial 34 buku itu, puisi esai membawa puisi melampuai peran tradisionalnya. Puisi juga menyampaikan isu sosial yang nyata. Ia bisa menjadi kajian sosiologis, kajian sejarah, kajian anthropologi.

Berbeda dengan puisi biasa, puisi esai ini juga ada drama. Asyik sekali jika puisi esai ini menjadi film layar lebar. Puisi esai saya Atas Nama Cinta di tahun 2014 juga dibuatkan lima film @40 menit oleh Hanung Bramantyo.

Tak sabar saya menanti kiriman puisi esai dari sisa propinsi.****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here