Yen Jadi Jawara, Rupiah Malah Keok & Terburuk di Asia

0
101

POLICELINE.CO- Di tengah dinamika pasar finansial akibat meluasnya infeksi virus corona sepekan terakhir, mata uang kawasan Asia bergerak bervariatif terhadap dolar. Rupiah yang sempat berjaya dan jadi jawara dunia akhirnya tumbang dan jadi yang terburuk di Asia.

Nasib nahas menimpa mata uang Tanah Air. Jumat kemarin (28/2) dalam sehari rupiah terdepresiasi 2,21% di hadapan dolar AS. Dalam sepekan rupiah terdepresiasi sebesar 4,22%. Jika ditarik lebih jauh lagi, nilai tukar rupiah melemah 3,2% sejak awal tahun melawan dolar AS.

Beberapa mata uang kawasan Asia yang senasib dengan rupiah sepekan terakhir adalah rupee India, ringgit Malaysia, peso Filipina dan dolar Hong Kong. Yen menjadi mata uang yang mencatatkan penguatan paling signifikan minggu ini dengan apresiasi 3,14% melawan dolar greenback.

Maklum yen merupakan salah satu aset safe haven yang diburu saat kondisi global dalam ketidakpastian seperti saat ini ketika wabah virus corona makin meluas.

Di awal pekan dunia kembali digemparkan oleh virus yang awalnya berasal dari Wuhan ini. Lonjakan jumlah kasus terjadi secara signifikan di Korea Selatan, Italia dan Iran. Bahkan lonjakan jumlah kasus tersebut melebihi kasus baru yang dilaporkan di China untuk pertama kalinya.

Kejadian tersebut kemudian memicu sell off besar-besaran di bursa saham dunia. Wall Street sebagai kiblat pasar saham dunia tak mampu melawan tekanan jual hingga terkoreksi paling dalam sejak krisis finansial 2008.

Tiga indeks utama bursa Wall Street anjlok signifikan dalam sepekan. Indeks S&P 500 jatuh 11,5%, Dow Jones Industrial Average (DJIA) anjlok lebih dari 12% dan Nasdaq Composite melorot 10,5%.

Anjloknya bursa saham global juga menular ke bursa saham kawasan benua kuning tak terkecuali bursa saham tanah air. Dalam sepekan IHSG telah terkoreksi sebesar 7,3%. Tak hanya IHSG, pasar surat utang pemerintah juga mencatatkan koreksi pada harga.

Hot Line:  Reskrim Polsek Prenduan Tangkap Budak Sabu, Dua Jempol Untuk Kasatreskrim Polres Sumenep

Harga surat utang pemerintah RI bertenor 10 tahun mencatatkan kenaikan imbal hasil atau yield. Hal ini menandakan harga obligasi tersebut turun, mengingat harga dan imbal hasil memiliki hubungan yang berbanding terbalik.

Dalam sepekan terakhir koreksi juga terjadi pada pasar surat utang pemerintah Indonesia untuk tenor 10 tahun. Pada Jumat pekan lalu (21/2/2020) imbal hasil obligasi pemerintah RI bertenor 10 tahun ini berada di 6,542%. Sementara itu, kemarin (28/2/2020) imbal hasilnya naik menjadi 6,887%.

Kemarin di kantornya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan per 27 Februari 2020 ada total net outflow dana asing sebesar Rp 30,8 triliun. Perry merinci aliran dana asing yang keluar terdiri atas Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 26,2 triliun dan saham sebesar Rp 4,1 triliun.

Terjadinya outflow turut menekan kinerja mata uang garuda yang sempat berjaya. Namun apa boleh buat virus corona memang tengah tebar ancaman yang buat investor panik dan buru-buru menyelamatkan diri dengan membeli aset-aset safe haven seperti surat utang pemerintah AS bertenor 10 tahun yang mencatatkan imbal hasil terendah sepanjang masa.

Rupiah yang sempat berjaya pada Januari, kini harus tumbang di hadapan dolar AS. Bahkan kinerjanya lebih buruk dari ringgit Malaysia yang notabene kondisi perpolitikannya sedang tidak kondusif dengan mundurnya Mahathir Mohamad dari perannya sebagai Perdana Menteri Negeri Jiran.

Pada perdagangan di pasar spot kemarin, mata uang Ibu Pertiwi itu dibanderol di Rp 14.340/US$ dan menjadi yang terlemah sejak Mei 2019. Namun secara kinerja, depresiasi rupiah yang lebih dari 2% dalam sehari menjadi koreksi harian terbesar sejak 26 September 2011.

(twg/tas/cnbc)

Hot Line:  Bawa Mobil, Bocah 13 Tahun Tabrak Pengendara Motor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here