Indosat PHK 677 Karyawan, Dapat Pesangon 70 Kali Gaji

0
157

POLICELINE.CO, JAKARTA- Manajemen emiten telekomunikasi, PT Indosat Tbk (ISAT) mengungkapkan persoalan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada 677 karyawannya. Hingga saat ini sudah 92% dari 677 karyawan terdampak atau 622 karyawan yang setuju dengan penawaran yang diajukan.

Sebanyak 622 karyawan yang setuju di-PHK tersebut mendapatkan pesangon hingga 70 bulan gaji, sedangkan yang masa kerjanya paling sebentar yaitu di bawah 1 tahun mendapatkan 14 bulan gaji.

Namun secara rata-rata, pesangon yang diberikan sebesar 43 bulan gaji. Gaji karyawan terdampak PHK juga sudah dinaikkan 3-6%.

“Rata-rata 43 bulan gaji. Paling kecil ada 14 bulan kurang dari satu tahun [masa kerjanya]. Di UU 13/2003 maksimum 32 bulan. Kita tertinggi ada 70 bulan gaji,” kata Director & Chief Human Resources Officer Indosat Ooredoo Irsyad Sahroni, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (27/2/2020), dikutip Detikfinance.

Lebih lanjut, Irsyad menjelaskan keputusan PHK sudah digodok sejak tahun lalu mengingat perusahaan merasa jumlah karyawan yang melebihi batas alias ‘kegemukan’.

“Tapi ada banyak juga yang kita lihat perusahaan kita ini kurang cukup agile [lincah], kegemukan istilahnya. Di mana kita melihat di sini bukan cuma menjadi lambat tapi decision making lebih kompleks dari seharusnya,” kata Irsyad.

Perseroan juga menjalin kerja sama dengan mitra-mitranya, termasuk mitra Managed Service untuk memberi kesempatan bagi karyawan yang terdampak agar tetap dapat bekerja di bawah naungan mitra dan juga menyediakan pelatihan pascakerja.

Dia juga membantah jika ada intimidasi dalam penyampaian rencana PHK kepada 677 karyawan. Masing-masing karyawan dipanggil secara terpisah dan dijelaskan hak yang akan didapatkan jika setuju dirumahkan.

“Tidak ada intimidasi,” ujarnya.

Tak hanya itu, Irsyad juga mengatakan perseroan menerima kunjungan Komisi IX DPR RI dan menyampaikan kepada delegasi wakil rakyat bahwa lebih dari 90% dari 677 karyawan yang terdampak reorganisasi bisnis saat ini telah setuju untuk menerima paket yang diberikan, termasuk paket kompensasi yang signifikan lebih tinggi dari ketentuan yang dipersyaratkan oleh undang-undang

Hot Line:  Bawaslu dan Dishub Sumenep Tertibkan MPU Berstiker Capres

“Kami mengapresiasi kunjungan Komisi IX DPR-RI hari ini,” kata Isryad.

“Kami juga telah menyampaikan bahwa reorganisasi bisnis telah berjalan dengan lancar sesuai rencana, telah diterima dengan baik oleh sebagian besar karyawan yang terdampak, mengambil langkah yang fair sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dan telah mengkomunikasikan secara langsung dan transparan kepada semua karyawan selama proses tersebut.”

Dari sisi kinerja, sepanjang 2019, perseroan membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,54 triliun, dari tahun sebelumnya yang mencatatkan kerugian Rp 2,40 triliun.

Dengan demikian, laba per saham juga meningkat menjadi Rp 288,74 per saham dari tahun sebelumnya minus Rp 442,38 per saham.

Mengacu laporan keuangan perusahaan yang dipublikasi di media massa, Senin (24/2/2020), perusahaan telekomunikasi dengan kode saham ISAT ini membukukan kenaikan pendapatan 11,40% menjadi Rp 26,11 triliun dari tahun sebelumnya Rp 23,13 triliun.

Pos selular menyumbang porsi pendapatan terbesar dengan kenaikan 12,80% menjadi Rp 20,67 triliun dari tahun sebelumnya Rp 18,02 triliun. Sedangkan, dari multimedia, komunikasi data dan internet menyumbang kontribusi pendapatan Rp 4,78 triliun dari tahun sebelumnya Rp 4,38 triliun. Sisanya, dari telekomunikasi tetap sebesar Rp 662,47 miliar.

Meningkatnya pendapatan perseroan juga sejalan dengan berkurangnya beban penghasilan ISAT sepanjang tahun 2019. Tercatat, jumlah beban turun 7,26% menjadi Rp 21,88 triliun dari tahun lalu Rp 23,60 triliun.

Pada tahun 2019, perseroan mendapat dana segar dari penjualan menara senilai Rp 2,56 triliun dan keuntungan bersih atas penerimaan aset sebesar Rp 534,69 miliar.

Tahun lalu, kedua pos ini belum memberikan kontribusi. Di sisi lain, menguatnya mata uang Garuda juga menyebabkan selisih kerugian kurs berkurang menjadi Rp 2,61 miliar dari tahun sebelumnya Rp 25,87 miliar.

Hot Line:  Babinsa Koramil 0827/19 Sapeken Sertu Hariyanto Komsos Soal COVID-19

Sepanjang tahun lalu, jumlah aset perseroan tercatat sebesar Rp 62,81 triliun dari tahun sebelumnya Rp 53,13 triliun. Sementara itu, liabilitas tercatat Rp 49,10 triliun dan jumlah ekuitas Rp 13,70 triliun.

(tas/cnb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here