Kisah Polisi Kanada Dituduh Memperkosa Wanita Aborigin

0
227

POLICE LINE – Kepolisian Federal Kanada dituding kerap melakukan kekerasan seksual terhadap wanita-wanita keturunan aborigin. Sejumlah korban mengaku pernah dilecehkan, bahkan diperkosa dan diancam akan dibunuh.

Laporan tersebut diungkapkan oleh organisasi HAM, Human Rights Watch<\/em> (HRW) seperti dilansir AFP<\/em>, Kamis (14\/2\/2013). HRW mewawancarai 50 wanita dan gadis muda yang kebanyakan berasal dari wilayah British Columbia. 

\\\”Ancaman kekerasan domestik dan kekerasan yang terjadi secara acak di satu sisi, dan perlakuan tidak senonoh oleh personel RCMP (Royal Canadian Mounted Police<\/em>) di sisi lain, membuat para wanita ini terus-menerus berada dalam kondisi yang tidak aman,\\\” ujar Meghan Rhoad yang menulis laporan HRW tersebut.

Wawancara HRW dilakukan terhadap 42 wanita dewasa dan 8 gadis muda yang berasal dari desa yang berbeda-beda pada bulan Juli-Agustus 2012 lalu. Dari hasil wawancara tersebut, terlihat bahwa rata-rata tindak kekerasan seksual dan penganiayaan terjadi ketika mereka berurusan dengan polisi dalam suatu kasus.

Beberapa wanita tersebut menuturkan, polisi Kanada kerap menggunakan kekerasan saat menangkap mereka. Kemudian para polisi tersebut akan memperlakukan mereka secara tidak senonoh saat dalam penahanan.

Seorang wanita mengaku dirinya pernah ditelanjangi oleh seorang polisi pria. Sedangkan seorang wanita lainnya mengaku, dirinya pernah dibawa oleh 4 polisi ke sebuah hutan pada Juli 2012 dan kemudian diperkosa beramai-ramai. Menurut wanita ini, dirinya juga diancam akan dibunuh jika memberitahu orang lain.

Kemudian seorang remaja berusia 15 tahun menuturkan, lengannya dipatahkan oleh seorang polisi. Kejadian tersebut terjadi ketika sang ibu memanggil polisi untuk membantu menyelesaikan pertikaiannya dengan sang pacar. Namun malah berujung kekerasan fisik.

Seorang gadis muda lainnya mengaku, dirinya pernah disetrum dengan alat kejut listrik berdaya 50 ribu volt saat ditangkap polisi. Menurutnya, hal tersebut kelewatan karena saat itu dirinya sudah diborgol sehingga tidak akan bisa lari ke mana-mana.

Hot Line:  Washington Post Dinilai Memfitnah, Warga Saudi Boikot Amazon

Atas tudingan ini, pihak kepolisian RCMP mengaku menanggapinya dengan serius. Namun RCMP berdalih, testimoni yang dikumpulkan HRW sulit untuk diusut karena korban maupun para polisi yang menjadi pelaku kekerasan tidak diidentifikasi secara spesifik.

\\\”Sangat tidak mungkin untuk mengusut laporan publik semacam ini karena kami tidak memiliki metode khusus untuk menentukan para korban maupun pelakunya,\\\” demikian pernyataan RCMP.

Ilustrasi (AFP)

(nvc/ita/dtk)

|Ferry Arbania|

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here