Al-Habib Abdul Qodir bin Zaid Ba’bud, penceramah kondang asal Kraksaan, Probolinggo saat berceramah dilapangan Guluk-Guluk, Sumenep, Jum'at malam 16 November 2018.

PoliceLine. Pengajian akbar dan Maulid Nabi 1440 H menggema dalam tajuk “Bershalawat bersama Kiai & Habaib untuk Kejayaan NKRI” di Lapangan Guluk-Guluk Jum’at, 16 November 2018.

Kelompok pemuda Pegiat Shalawat Guluk-Guluk menggelar peringatan
Maulid Nabi Muhammad SAW 1440 H bertajuk “Bershalawat bersama Kiai &
Habaib untuk Kejayaan NKRI” di Lapangan Kecamatan Guluk-Guluk pada Jum’at malam, 16 November 2018.

Acara ini terselenggara berkat kerjasama kelompok pemuda terkait dan aparat desa. Beberapa kepala desa se- Kecamatan Guluk-Guluk turut aktif membantu suksesnya acara.

Kegiatan ini berlangsung sejak sekitar pukul 19.30 WIB dan baru berakhir
menjelang pukul 24.00 WIB. Peringatan maulid ini dibagi dua bentuk
kegiatan, yaitu pra-acara, yang berisi panggung apresiasi penampilan
komunitas-komunitas pegiat shalawat, dan acara inti peringatan Maulid Nabi dengan acara inti shalawat Nabi dan ceramah agama.

Komunitas pegiat shalawat yang tampil terdiri dari dua corak warna, yaitu
komunitas Banjari dan hadrah tradisional. Komunitas Banjari yang tampil diantaranya: Nasyidul Muhibbin, Nurul Habib, Marajana dan Al-Ahbab.
Sementara dari komunitas hadrah, kelompok legendari Shoutus Syabab
yang didirikan oleh KH. Abdul Basith bahar, pengasuh PP. Annuqayah
Karang Jati, yang kini kelompok hadrah ini diasuh oleh Ust. Mushawwir dan
K. Maltuf Zaini.

Tamu undangan yang hadir diantaranya: para kiai dan pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, salah satunya adalah KH. Abdul Muqsith Idris; Pengasuh Pondok Pesantren Al-Is`af Kalabaan, KH. Kholilullah; Bupati Sumenep, KH. Abuya Busyro Karim; Kapolsek Guluk-Guluk; Danramil; kepala-kepala desa; para habaib Sumenep, salah satunya: Alhabib Muhammad Bilfaqih.

Turut hadir bersama para undangan, masyarakat Guluk-Guluk dan
kecamatan sekitarnya, Ganding, Pragaan, Pasongsongan, Lenteng dan
lainnya. Diperkirakan jumlah massa yang hadir mencapai 20 ribu orang.

Acara inti peringatan Maulid Nabi dimulai dengan sambutan dari
Penanggung Jawab acara, KH. Muhammad Shalahuddin, salah seorang pengasuh PP. Annuqayah Guluk-Guluk. Dalam sambutannya, secara tersirat beliau menyebutkan bahwa tujuan acara ini untuk mengukur kuatnya kecintaan masyarakat Guluk-Guluk terhadap para kiai dan habaib serta untuk memperkuat bentuk kecintaan tersebut dengan mengambil ilmu secara keteladanannya. Hadirnya ribuan massa di Lapangan Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur
yang juga merupakan lapangan bersejarah, di mana berdiri monumen
perjuangan Kiai Abdullah Sajjad yang gugur tatkala mempertahankan
kemerdekaan RI, menunjukkan kecintaan yang mendalam terhadap para pendiri bangsa, kiai dan para habaib.

Sambutan selanjutnya dari Bupati Sumenep, KH. Busyro Karim, yang
menyampaikan pentingnya menjaga keutuhan NKRI dengan mengenali ke-
khasan negeri tercinta ini. Ummat Islam Indonesia adalah ummat Islam yang
khas, menajalankan Islam ala Indonesia yang diwarnai aneka budaya setempat untuk memperkuat kesatuan mereka. Bupati juga memberikan peringatan akan bahaya panggung-panggung pengejian yang menjadikan agama sebagai bungkus dari kepentingan politik semata.

Setelah sambutan, shalawat julus dipimpin oleh KH. Kholilullah, dilanjutkan shalawat qiyam yang dipandu oleh kelompok Hadrah gaek Shoutus Syabab.

Penampilan Shoutus Syabab mampu mengembalikan pamor hadrah
tradisional di tengah-tengah kalangan ribuan remaja milenial yang turut
hadir mengikuti acara.

Acara inti peringatan ini adalah ceramah agama oleh Al-Habib Abdul Qodir bin Zaid Ba’bud, penceramah kondang asal Kraksaan, Probolinggo. Gaya berceramah Al-Habib Abdul Qodir mampu menghangatkan suasana dengan humor-humornya yang khas dan membuat hadirin tak beranjak dari tempat acara hingga rampung. Bahkan hadirin berteriak sanggup mendengarkan Al- Habib hingga pukul 3 dini hari.

Di dalam ceramahnya, Al-Habib Abdul Qodir memaparkan perlunya
bersyukur sebagai bangsa Indonesia yang memiliki corak ber-Islam yang
tidak dijumpai di negara-negara lain.

Salah satunya adalah pendekatan khas para perintis Islam awal, yaitu para Sunan dan Kiai-kiai besar, di dalam
menjalankan misi dakwahnya dengan pendekatan budaya setempat. Kondisi
ummat yang pada masa awal dipenuhi kebodohan mengharuskan para
ulama perintis untuk mencari cara kreatif, yang di dalam bahasa Habib
Abdul Qodir, mengubah kitab menjadi adat.

Al-Habib Abdul Qodir bin Zaid Ba’bud, penceramah kondang asal Kraksaan, Probolinggo saat berceramah dilapangan Guluk-Guluk, Sumenep, Jum’at malam 16 November 2018.

Ribuan peserta mengikuti serangkaian acara Bershalawat bersama Kiai dan Habaib (Dok. Policeline.co)

Materi yang ada di dalam kitab
sulit untuk langsung disampaikan pada masyarakat awam, maka kemudian materi tersebut dituangkan ke dalam bentuk adat istiadat setempat yang bisa menjadi contoh serta teladan langsung dari akhlak para perintis, salah satunya peringatan Maulid Nabi seperti yang sedang berlangsung.

Al-Habib Abdul Qodir juga memperingatkan bahaya kebodohan yang merupakan salah satu dari lubang yang akan memerosokkan ummat ke dalam maksiat.

Ada tiga yang akan membuat seseorang jatuh ke dalam
maksiat, yaitu kebodohan, nafsu dan teman yang mendorong kepada maksiat.

Panitia Pelaksana kegiatan, K. M. Widadi, rencananya akan menghadirkan Habib Alwi bin Abu Bakar al-Muhdlor sebagai penceramah sebagaimana terpampang di dalam backdrop acara. Namun karena ada hal teknis yang tak memungkinkan Habib Alwi hadir, panitiapun mengundang Al-Habib Abdul
Qodir yang sukses memukau masyarakat Guluk-Guluk dan sekitarnya.

Acara berlangsung lancar dan aman hingga berakhir menjelang tengah
malam. Al-Habib dan beberapa undangan lain bahkan baru beranjak
meninggalkan tempat pada sekitar pukul 1 dini hari karena asyik beramah
tamah. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here