Ilustrasi/net

Hutan Seok
Puisi karya: Ferry Arbania

Sayap malam yang dingin
Angin bersujud dalam hening
Hutan kota yang terbuai
Akulah desa dalam damai

Wahai Bulan yang terseok diatas Kemarau,
Inilah cinta yang kemarin ditumbangkan hujan,
Air mata mengeram dalam geram,
Pahlawan yang menyegarkan kenangan,
Sungai-sungai kecil yang meliuk di semak belukar,
duri-duri dan kobaran api,
kini telah tumbuh menjadi pelukan cemburu.

Malam makin menua,
Secangkir kopi dalam gelas bisu,tumpah kembali,
Merampungkan rindu pada kampung ibu, anak-anak dan saudaraku.

“Kini hidup tanpa ayah lagi,pergi mengubur diri”.

Tapi siapakah kalian yang membawaku mati,
Tidur tanpa dengkur, lalu orgasme dalam pelukan bumi.

“Ini bukan mimpi jenderal”
Mari angkat senjata lagi,
Karena Lawan kita adalah nafsu
yang merajalela didalam kalbu.

Sumenep, 16 November 2018.Pukul 02.20 wib

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here