Sumenep (PoliceLine) – Serma Edi S, selaku Pejabat sementara Komandan Koramil 0827/12 Dasuk pimpin kegiatan pengamanan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Sesepuh Pendiri Masjid dan Pesantren di wilayah binaan Kecamatan Dasuk Kabupaten Sumenep. Madura-Jawa Timur. Sabtu, (10/11/2018).

Kegiatan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1440 H dan Haul sesepuh pendiri masjid dan pesantren se-Kawedanan Ambunten dan sekitarnya yang diselenggarakan oleh Forum Silaturrahim Guru Ngaji (Fortuna) Kecamatan Ambunten Kabupaten dihadiri kurang lebih 1.000 orang tamu undangan, sebagai pembina KH. Suhail Imam alamat Dusun Pandan Desa Ambunten Tengah Kecamatan Ambunten.

Pada pelaksanaannya kegiatan tersebut digelar pada hari Jum’at tanggal 9 November 2018, dimulai pada pukul 20.53 sampai dengan 00.15 WIB dini hari. Turut hadir dalam acara tersebut diantaranya; KH. Ahmad Mushtofa Bisri dari Rembang (mantan Rois Aam PB NU), KH. Abdullah Kafa Bih (pengasuh PP. Lirboyo Kediri), Prof Dr. Sayyid Mohammad Fadil Al Jailani dari Turki, Habib Alwi Al Baiti dari Desa Tambaagung Tengah Kec. Ambunten, Ketua PC NU Kab. Sumenep Bapak K. Panji Taufik, Para Ulama se-Kawedanan Ambunten, Forpimka Dasuk, dan Guru Ngaji se-Kawedanan Ambunten.

Unsur pengamanan dalam pantauan awak media Pendim, selain 8 Personil dari anggota Babinsa Koramil 0827/12 Dasuk juga turut teserta melakukan pengamanan dari anggota Babinsa Koramil 0827/10 Ambunten sebanyak 6 personil.

Disamping itu juga beberapa anggota Bhabinkamtibmas dari beberapa Polsek juga diterjunkan dalam pelaksanaan pengamanan diantaranya; Bhabinkamtibmas dari Polsek Dasuk sebanyak 10 orang, Bhabinkamtibmas dari Polsek Ambunten berjumlah 9 orang, Bhabinkamtibmas Polsek Pasongaongan sebanyak 5 orang, Bhabinkamtibmas Polsek Manding 10 orang banyak dan Bhabinkamtibmas Polsek Batuputih sebanyak 9 orang.

Adapun susunan acara, pada pukul 20.53 WIB diawali dengan pembukaan yaitu membacakan Shalawat Nariyah dan dilanjutkan baca Tahlil yang dipimpin oleh KH. Abdul Qodir Jailani dari Mambang Rubaru.

Masuk pada acara inti yaitu yaitu pada pukul 21.43 WIB mauidah hasanah atau penyampian tausiyah yang disampaikan oleh Prof Dr. Sayyid Mohammad Fadil Al Jailani. Pada inti tausiyahnya; Khusus untuk Fortuna dan para hadirin yang hadir semoga diberkati oleh Allah SWT. Berbela sungkawa bagi yang terkena musibah tsunami di Palu dan Donggala semoga dimasukkan ke sorganya Allah SWT.

Menurut Prof Dr. Sayyid Mohammad Fadil Al Jailani., Negara Indonesia adalah Negara yang bermartabat. insyaallah dalam kesempatan ini Dr. Sayyid Mohammad akan menyampaikan tentang Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

“Sangat penting tentang pendidikan anak terutama memberikan pendidikan Alquran kepada anak karena dalam Alquran terdapat Nur Muhammad,” terang Dr. Sayyid sewaktu memberikan tausiyah.

Syech Abdul Qodir Jailani yang menghidup hidupkan tentang Al-quran dan kehidupan anak yatim sehingga wajib bagi kita untuk memperhatikan anak yatim maupun fakir miskin. Syech Abdul Qodir sangat perhatian di dunia, alam kubur dan akhirat, kalau kita menyempurnakan anak dengan ilmu berarti kita menyempurnakan Nur Al-quran dan Nur Muhammad, “paparnya”.

Syech Abdul Qodir Jailani menyebutkan dalam hadistnya bahwa nabi Muhammad SAW, memberikan 3 kabar baik yang tidak dibawa oleh nabi-nabi lain yaitu tentang nurul ilmi Muhammad SAW, anak shaleh yang mendoakan kedua orang tuanya dan sodakoh dari benda yang halal tertutama yang diperuntukkan pendidikan anak yatim sampai menjadi alim.

Nur Sayyidina Muhammad yang dilewatkan melalui anak yatim menjadikan ilmu itu menyinari dikala kita hidup di alam kubur, siratul mustaqim hingga hari kiamat. Syech Abdul Qodir Jailani dan nabi Muhammad memuji ilmu dan orang yang mencari ilmu tapi tidak memuji parlemen maupun menteri.

Rasulullah tidak menyebut presiden maupun menteri sebagai warowatul ambiyak tapi warowatul ambiyak adalah para alim ulama. Seperti Sayyidina Ali yang merupakan pintu kotanya ilmu setelah nabi muhammad SAW, bahkan oleh Rasulullah di sebut sebagai saudara seperti nabi Harun dan nabi Musa.

Sayyidina Ali menyebut kalimat menakjubkan yaitu barang siapa mengajari satu huruf maka menjadikan aku sebagai budaknya dan waktunya tidak mengikat kata-kata tersebut baik satu bulan maupun satu tahun namun akan menjadi budak gurunya sampai hari kiamat.

Kata Syech Abdul Qodir Jailani sewaktu ia akan meninggal, datang semua anak-anaknya berkumpul dan bertanya apa yang akan diperbuat ketika Syech Abdul Qodir Jailani meninggal, kemudian menyampaikan untuk memperhatikan ilmu Aqidah kepada Allah SWT, ilmu Syariah, ilmu dhahir dan ilmu bathin (tafsir Al-quran dan hadist).

Menghimbau agar membaca shalawat 313 kali setiap hari secara istiqomah dan diamalkan sampai akhir ajal, insyaallah kita lolos dari timbangan dan cepat melewati sirotul mustaqim serta masuk surga bersama Rasulullah. Memimpin pembacaan tahlil yang biasa dilakukan oleh Syech Abdul Qodir Jailani dan diikuti oleh seluruh jamaah yang hadir.

Sekira masuk pada ukul 22.42 WIB pembacaan fatehatul Quran yabg dipimpin KH. Abdullah Kafa Bih dari Lirboyo Kediri, kemudian menyampaikan salah satu isi Hadist Rasulullah yang disampaikan kepada para sahabat yang artinya bahwa jika kita cinta kepada ulama maka kelak kita akan berkumpul dengan ulama.

Mauidah Hasanah atau Tausiyah juga disampaikan oleh KH. Ahmad Mushtofa Bisri dari Rembang yang intinya; Peringatan Nabi Muhammad SAW ada yang menganggap bit’ah, namun saya menganjurkan setiap malam agar melaksanakan maulid, mungkin bisa saja mambaca Al-quran juga dianggap bit’ah karena di zaman Nabi Muhammad Alquran tidak dibacakan.

Kita jangan malas berfikir, kenapa yang diperingati hari lahirnya nabi Muhammad SAW dan bukan diperingati hari wafatnya seperti halnya haul para ulama yang telah wafat. “Memperingati kelahiran nabi Muhammad SAW karena menandai zaman kegelapan menjadi zaman terang benderang dan zaman kebodohan menjadi zaman yang cemerlang, kalau kiyai tunggu dulu karena ada kiyai yang menjadi juru kampanye,” jelas KH. Ahmad Mushtofa Bisri dari Rembang.

Perbaiki akhlak yang mulia karena niscaya kita akan dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Korelasi harus tercipta antara pemberi pengajian dan yang diberi pengajian, siapa yang akan disalahkan, pihak yang salah adalah pemberi pengajian yang akhlaknya tidak sesuai dengan apa yang dikerjakan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Saya jauh-jauh dari Rembang dan melewati jembatan Suramadu, untung gratis. Tampilan pakaian tidak menjadi pencerminan akhlak seseorang, Nabi Muhammad SAW bajunya sama dengan para sahabat maupun umat lainnya karena beliau juga menghargai budaya lokal.

Nabi Muhammad SAW tidak tahan jika melihat penderitaan umatnya maka dari itu nabi Muhammad SAW beramal makruf nabimunkar dan bukan menanamkan kebencian, “tutup KH. Ahmad Mushtofa Bisri pada saat mengakhiri tausiyahnya.

Dipenghujung akhir pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1440 H dan Haul sesepuh pendiri masjid dan pesantren se-Kawedanan Ambunten dan sekitarnya dilakukan penutup dengan pembacaan Do’a yang dipimpin langsung oleh KH. Ahmad Mushtofa Bis.

(sur/fer)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here