Tanggul Sungai Way Topi Minta Nyawa, Banjir Terparah Sejak 1948

0
400

Jurnalis : Agus Rahardja
BANDARA LAMPUNG, POLICELINE.CO–Suasana masih murung di Kampung Sinar Banten, Bekri, Lampung Tengah. Ratusan rumah masih banjir. Jalan Bekri masih putus. Jebolnya Tanggul Penangkis dan meluapnya Sungai Way Topi membuat warga di sana bersiaga sampai Senin Malam,  hingga pagi ini 27 Februari 2017.

“Ini banjir terparah sejak Tahun 1948,” kata sesepuh Kampung Sinar Banten Muhamad Yasin. Seingat dia, sejak Tahun 1940-an, kawasan itu sudah tiga kali banjir. “Baru kali ini  yang menelan korban jiwa. Dulu hanya hewan peliharaan, seperti ayam, kambing yang mati,” katanya.

Hariyadi, kepala Kampung Sinar Banten mengatakan ratusan rumah terendam banjir di wilayahnya. Ia mengistilahkan mereka masih “mandiri” membantu warga. Belum ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten.

Selain Bekri, 500-an rumah terendam di Lampung Tengah sejak Senin Dinihari. Banjir terparah terjadi Slusuban, Seputih Agung, Candirejo,  Tanjung Ratu, Terbanggi Besar, Bendosari, Komering Putih, Gunung Sugih. BPBD baru bisa memastikan angka pasti pada Selasa. Tinggi air mulai surut, dari rata-rata 1 meter menjadi selutut pada sore hari.

Jalan Lintas Tengah Sumatera macet sejak Senin  malam. Tersendat baik dari arah Kotabumi atau dari Bandarlampung.

Senin malam,pagi ini  jumlah warga yang meninggal akibat banjir di Lampung Tengah enam orang. Seluruhnya akibat terjebak dalam kendaraan yang terseret arus. Empat orang di Bendosari, Kampung Putih, Gunung Sugih. Dua orang lainnya di Jalan Bekri. (Banjir di Lampung Tengah: 6 Warga Meninggal)

pencarian tiga korban banjir di Lampung Tengah, Senin (26/2) malam. Dan Selasa pagi ini Pencarian di dua lokasi akan dilanjutkan hari ini, Selasa (27/2).

Ketiga korban yang masih hilang yakni Suratno (41) warga Tulangbawang dan Iqbal (17) warga kampung Sinar Banten Bekri. Keduanya hilang setelah truk pengangkut sawit yang mereka naiki bersama beberapa warga lain terperosok banjir di Bekri.

Hot Line:  In Picture: Mobil Terseret Banjir di Lampung

Satu korban hanyut lainnya yakni Patimah binti Nasir (14) warga Kelurahan Seputihjaya. Korban menghilang setelah Wayseputih meluap saat dia sedang mencari rumput di sekitaran Gunungsugih.

Empat orang yang meninggal di Bendosari terdiri dari Supangat, usia 61 tahun, meninggal di kemudi. Demikian juga isterinya, Warsinem, usia 58 tahun,  cucu mereka Talita, usia 4 tahun. Pagi itu, mereka berada di dalam Kijang Kapsul BE 2331 H yang berpenumpang lima orang. Hanya Palupi, usia 11 tahun, yang selamat.

Sedangkan dua warga meninggal di Bekri terdiri dari Iqbal, berusia 18 tahun, warga Srimulyo, dan seorang sopir truk sawit. Namun hingga pukul 22.00, jenazahnya kedua belum ditemukan. Petugas SAR sudah melakukan penyisiran dari siang hingga sore.

Rifat,  berusia 50 tahun, anggota polpos, yang menumpang di truk sawit itu, mengatakan,  mereka sedang menuju  Wates dari Bekri saat arus air mendadak datang, menyeret truk. Ia berhasil keluar dari dalam kendaraan pengangkut sawit itu.

Tukijo, warga Bekri, dirawat karena saat itu ingin menolong Rifat dan sopir truk sawit tersebut. “Saya malah tenggelam dan syukur ditarik dengan tali oleh warga,” katanya di Puskesmas Pembantu Sinar Banten.

Warga lainnya, Tubi, berusia 19 tahun, juga warna Sinar Banten, dirawat karena tenggelam saat ingin menolong Tukijo.

(pol/gus/fer)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here