Kejahatan Seksual Anak Terulang di Tobasa, Begini Reaksi Ketua Komnas PA

0
372
Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak memberikan keterangan pers tentang gerakan perlindungan anak sekampung.

POLICELINE.CO: Kejahatan seksual terhadap anak di wilayah hukum Tobasa terulang kembali. Perlakuan bejat dan biadab ini dilakukan oleh ayah kandungnya berinisial JS (38) dan paman (tulang) korban sendiri MN (33).

Perlakuan bejat yang dilakukan JS dan MN warga Desa Nadeak Napitu, Kecamatan Silaen, Tobasa dilakukan berulang-ulang sejak korban berusia 12 tahun hingga akhir tahun 2017.

Akibat perlakuan biadab ayah dan paman korban ini, korban saat ini mengandung 4 bulan dan mengalami depresi berat.

Dari Informasi yang dihimpun Tim Relawan Investigasi Cepat (quick investigation voluntary) komnas Anak di Tobasa, sungguh diluar dugaan bahwa perlakuan bejat yang dialami korban ini justru diduga diketahui oleh ibu korban.

Menurut keterangan korban kepada pihak kepolisian dan informasi yang dihimpun dari warga masyarakat Deda Nadeak Napitu, setelah ibu korban mengetahui anaknya hamil.

untuk menghilang bukti perlakuan Ayah dan Pamannya itu ibu korban justru diduga berinisiasi dan memerintahkan korban minum obat untuk menggugurkan kandungannya.

Untuk memberikan dukungan moral dan psikososial terapi terhadap korban Komnas Perlindungan Anak sebagai lembaga pelaksana tugas dan fungsi untuk memberikan pembelaan dan perlindungan anak di Indonesia, bersama pegiat perlindungan anak di Toba Samosir Jumat 02/02 berencana menemui korban dan warga masyarakat Desa Nadeak Napitu.

” Dilanjutkan hari Sabtu ( 03/02) akan bertemu dengan Kapolres Tobasa dan penyidik Unit Perlindungan Perempuan Anak ( PPA) untuk melakukan kordinasi penegakan hukum atas peristiwa kejahatan kemanusiaan ini,” demikian disampaikan Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak kepada media di Jakarta.

Arist menambahkan, mengingat kasus kejahatan seksual yang dilakukan terduga ayah dan paman korban di Desa Nadeak Napitu ini merupakan kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) setara dengan tindak pidana korupsi, narkoba dan terorisme.

Hot Line:  Polres Banyuwangi Ungkap 109 Pelaku Kejahatan Anak Bawah Umur

Dalam kunjungan Komnas Perlindungan Anak di Polres Tobasa nantinya, pihaknya akan datang untuk mendorong pihak Polres Tobasa agar berkenan menjerat tersangka dengan Ketentuan UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penerapan PERPU No. 01 Tahun 2016 tentang perubahan kedua UU RI No. 23 Tahun 2002, junto UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Dengan demikian, diharapkan Jaksa Penunut Umum (JPU) dapat menuntut pelaku dengan acaman pidana minimal 10 tahun dan maksimal pidana penjara 20 tahun. Selain itu pihaknya berharap agar ditambahkan dengan pidana tambahan pisik seumur hidup dan hukuman tambahan “Kastrasi” kebiri melalui suntik kimia dan dapat ditambahkan pula dengan tambahan hukuman sepertiga dari pidana pokoknya.

“Dan jika ibu korban terbukti dan meyakinkan ikut serta atau mendukung terjadi kejahatan seksual ini, ibu korban juga dapat dijerat pidana penjara maksimak 15 tahun dan minimal 5 tahun, dan yang terpenting tidak ada “KATA DAMAI” terhadap kejahatan seksual,” imbuh Arist menandaskan.

Dalam catatanya, pengungkapan kasus kejahatan seksual yang terjadi di Desa Nadeak Napitu ini, tidaklah berlebihan jika Komnas Perlindungan Anak memberikan apreasi terhadap kepedulian warga Desa Nadeak Napitu atas peristiwa tersebut. Begitu juga dalam hal memberikan apresiasi kepada Polres Tobasa yang telah cepat dan sigap menindaklanjuti laporan warga masyarakat Silaen, sehingga pelaku dapat ditangkap dan korban dapat diselamatkan.

“Atas peristiwa ini, sudah saatnya warga masyarakat di Tobasa secara khusus di Kecamatan Silaen segera waspada dan peduli terhadap anak dengan menumbuhkan gerakan bersama menjaga dan melindungi anak sekampung atau “sahuta”.. yakni Sada anak Sada Boru”.***

(Ferry Arbania)

|Ferry Arbania|

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here