POLICELINE.CO,SANAA – Tahun 2017 menjadi tahun kebuntuan militer dan politik untuk konflik Yaman. Tentara sah Yaman yang didukung militer koalisi Arab pimpinan Arab Saudi tidak meraih kemajuan signifikan.

Tercatat, hanya satu wilayah strategis yang berhasil direbut dari tangan pemberontak Syiah Hutsi. Selebihnya hanya distrik dan kota yang kurang berperan dalam mengubah peta wilayah.

Wilayah strategis yang berhasil direbut pasukan Yaman adalah kota Al-Mukha di provinsi Taiz. Dengan didukung pasukan udara koalisi Arab, tentara Yaman berhasil mengusir pemberontak Syiah dari kota itu di awal tahun 2017. Nantinya, kota ini menjadi titik pergerakan tentara Yaman menuju provinsi Al-Hudaydah di Laut Merah.

Di Al-Mukha terdapat pelabuhan perdagangan yang menghadap ke Laut Merah. Pelabuhan ini juga menjadi pintu utama menuju provinsi Taiz. Militer Uni Emirat Arab (UEA) membangun pangkalan militer di pelabuhan ini. Dikabarkan, UEA mengelola pelabuhan ini untuk kepentingan negaranya.

Awal Desember 2017, akhirnya militer Yaman bergerak menuju provinsi Hudaydah dari kota Al-Mukha. Militer berhasil merebut kota Al-Khokha di pinggiran provinsi tersebut. Kemajuan ini hanya memungkinkan tentara pemerintah hadir di distrik Tahita dan Hayes. Pergerakan ini juga berhasil menduduki kamp Abu Musa Al-Asy’ari, bekas kamp militer yang direbut Hutsi. Kamp ini cukup penting karena berada di pantai barat Hudaydah.

Di wilayah utara, pasukan pemerintah meraih sedikit kemajuan di distrik Sarawah, provinsi Marib. Tentara juga juga mengambil alih beberapa wilayah yang kurang strategis di provinsi Jouf, Hajjah dan Saada, di perbatasan Yaman dengan Arab Saudi.

Dalam sebuah wawancara dengan Anatolia, analis politik Yaman, Abdul Nasir Al-Muwaddak, menilai bahwa 2017 adalah tahun kebuntuan militer, karena situasi di negara tersebut tidak menyaksikan adanya perubahan militer dan strategis yang signifikan kecuali dalam kasus Al-Mukha.

Namun Al-Muwaddak menyebut bahwa kota Al-Mukha merupakan front sekunder di banding front-front lainnya, terutama di dekat Sanaa dan Sadaa.

Upaya Politik Gagal Total

Utusan Khusus PBB untuk Yaman Ismail Walad Al-Syaikh Ahmed di tahun 2017 kembali mengupayakan perundingan terkait solusi krisis Yaman. Ia berkeliling ke Negara-negara Timur Tengah untuk berkonsultasi namun tidak menghasilkan apapun. Begitu juga dengan koalisi Arab dan pemberontak Syiah Hutsi, menolak proposal yang diajukan Ahmed untuk menyelesaikan konflik.

Dengan demikian, 2017 menjadi tahun yang kosong dari setiap negosiasi atau upaya untuk menuju perundingan di tahun 2018.

Proposal terakhir yang diajukan Ahmad adalah proposal kemanusiaan untuk membuka bandara Sana’a dan pelabuhan Al-Hudaydah untuk kemanusiaan. Selain mengusulkan pelabuhan Al-Hudaydah dikelolah oleh PBB.

Sumber pemerintah Yaman meramalkan bahwa tak ada solusi politik yang berjalan di tahun mendatang, terutama setelah pembunuhan mantan Presiden Ali Abdullah Saleh. Hal itu karena Saleh, yang sebelumnya bersekutu dengan pemberontak Syiah Hutsi, selalu menyerukan perundingan sementara pemberontak Hutsi keukeuh pada opsi militer.

Tekanan Internasional terhadap Koalisi Arab

Mewabahnya penyakit kolera di Yaman mengarahkan jari telunjung internasional kepada koalisi Arab. Aliansi yang masuk ke Yaman 2015 lalu itu dianggap paling bertanggung jawab, terlebih setelah menutup seluruh akses menuju Yaman, baik udara, laut dan darat. Organisasi kemanusiaan menilai, langkah koalisi itu menyebabkan mereka tidak bisa berkerja meminimalisir wabah mematikan itu.

Sementara itu, koalisi beralasan bahwa pemberontak Syiah Hutsi menyelundupkan senjata dari Iran melalui jalur-jalur kemanusiaan. Serangan rudal balistik yang ditembakkan oleh Hutsi ke ibukota Arab Saudi, Riyadh, semakin menambah keyakinan koalisi atas dugaan itu. Pasalnya, rudal tersebut diidentifikasi buatan Iran.

Akibat tekanan yang cukup kuat itu, koalisi membuka jalur-jalur kemanusiaan secara terbatas. Sumber persenjataan pemberontak Syiah Hutsi menjadi incaran utama koalisi.

Pemberontakan di dalam pemberontakan

Di penghujung tahun 2017, konflik Yaman dikejutkan dengan konflik internal di tubuh pemberontak. Pasukan loyalis mantan Presiden Ali Abdullah Saleh terlibat pertempuran sengit dengan milisi Hutsi di ibukota Sanaa. Keduanya bersekutu dalam pemberontakan melawan pemerintah sah.

Hutsi menuduh Ali Saleh berkhianat karena menjalin hubungan dengan koalisi Arab. Alih Saleh pun melarikan diri dari Sanaa. Nahas, di tengah perjalanan rombongannya tertangkap oleh milisi Hutsi. Ia dan sejumlah orang dekatnya dieksekusi.

Perpecahan antara Hutsi dan loyalis Ali Saleh ini pun dinilai akan mempengaruhi peta. Pasalnya, pengikut Ali Saleh terpecah, antara bergabung dengan pasukan pemerintah dan Hutsi.

Terkait prediksi ke depan, para pengamat belum bisa memastikan. Namun mereka menegaskan akan terjadi ekskalasi militer dan peningkatan operasi terhadap Hutsi.

Penulis: Hunef Ibrahim.

(Kiblat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here