Rhenald Bicara Moderat : Saham FI, Tanah dan PT.

0
40

Mengapa?
Ini penjelasan Rhenald Kasali, Guru besar FEB Universitas Indonesia

1. Freeport itu perusahaan (PT.) Sedangkan alam itu tanah, emas juga lainnya. tanahnya tetap dikuasai NKRI, dan dari dulu Indonesia dapat uang konsesi, pajak dll. Itu adalah hak atas tanah yg dikuasai asing yg di dalamnya ada emas, perak dan tembaganya.

2. Yang namanya PT itu berbeda dengan tanah yg dijamin konstitusi. Di dalam PT itu ada aset, ada modal, saham-saham, R&D, ada team direksi, expertise, brand, technology, market channel dll. Ada harta-harta kelihatan dan ada intangibles-nya. PT ini bukan milik kita. Itu dibawa asing ke tanah Indonesia dan kalau mereka diusir, pasti aset-asetnya itu diangkut semua keluar dan kita pasti tdk bisa mengolah emas itu dgn cara-cara konvensional. Jadi kalau mau diambil, ya harus bayar kompensasinya. Kalau mau tanahnya saja, usir saja PT-nya, lalu bangun sendiri PT baru. Butuh 20-30 tahun dan sangat mahal untuk bisa membentuk itu semua.

3. Hanya saja memang dulu pejabat-pejabat kita senang terima bagian besar buat dirinya sendiri atau kelompoknya, sehinggah dikasih kecil buat negaranya mereka, Ok saja.

Jokowi sebaliknya. Dia rela compang-camping dihina para mafioso yg berada dibalik kuasa itu. Dia bereskan dgn tenang untuk dapat bagian dari PTnya yg lbh besar dan fair, yaitu bayar yg menjadi hak orang lain dan sebaliknya mereka harus bayar lebih baik yang menjadi hak kita.

4. Ada yg bilang itu memang sudah saatnya beralih. Ya begini, sekarang semua orang bisa bilang sudah saatnya. Tetapi *menentukan saatnya sebelum waktunya tiba itulah leadership*.

Dan jangan lupa ide itu murah karena tak berisiko apa-apa, tetapi implementasi itu mahal karena yang menjalankan akan babak belur.

Hot Line:  DPI Solusi Dari Peraturan dan UKW Abal-Abal Dewan Pers

Maka jangan heran pemimpin-pemimpin yang dulu selalu memundurkan action karena kurang berani atau mereka kurang pandai bertempur, kurang gigih dll. Mereka selalu menggeser ke belakang begitu saatnya tiba di tangan leadership mereka.

Akibatnya saat Jokowi eksekusi, Jakarta selalu digoyang. Amerika marah besar bahkan sempat kirim pasukan yg merapat di Australia. Namanya juga negara adikuasa. Pakai psy war adalah hal biasa dalam mengawal kepentingannya. Belum lagi penembakan-penembakan di Papua, begitu negosiasi mencapai kesepakatan.

Mafioso membiayai preman-preman jalanan dan oknum aparat serta oknum politisi untuk memutarbalikkan cerita yg sebenarnya. Alhamdullihah Tuhan mencintai Indonesia. Semua rintangan alhamdulilah kita bisa atasi.

5. Yang kita beli dan ambil alih itu sahamnya sehingga kita bisa menjadi pemegang saham mayoritas spy bisa dapat bagian lebih besar dan bisa memegang kendali. Dari pengolahan dan teknologi yg kita tidak kuasai…. kita bisa belajar alih teknologi dan skill.

6. Mengapa kita harus jual global bond untuk biayai pengambilalihan saham PT FPI? Karena kita tidak mau cadangan dollar kita tergerus lagi. Nilai rupiah bisa tertekan lagi kalau diambil dari lokal, sebab PT FPI maunya dibayar memakai dolar, bukan rupiah. Jadi kita harus cerdik sedikit. Tinggal bagaimana hitung-hitungannya? Itu harus berhitung

7. Yang kita perlukan adalah surat hutang yg tenornya panjang, bahkan ada yg 30 tahun. Supaya apa? Supaya hasil Freeport bisa segera dinikmati bangsa ini. Kalau dihitung, kita baca laporan keuangannya, maka tampak EBITDAnya PT FPI setahun sekitar US$ 4B. Net profitnya, saja sekitar US$ 2 B. Kalau jangka pendek, jelas memberatkan.

8. Karena kini kita berhasil memiliki sahamnya sebesar 51,2%, maka dalam setahun Indonesia bisa menikmati US$ 1B lebih. Itu duit gede boz…!

Hot Line:  Masih Perlukah Program Transmigrasi Dilakukan?

9. Jadi kalau kita mau, hanya dalam 4 tahun global bond itu beres dan setelah itu kita dapat duit gede seterusnya slm 50 tahun. Sebab jumlah surat hutang itu ya hanya sekitar US$ 4B sebagai kompensasi yg kita bayar ke PT FPI. Aneh kalau kehebatan ini disalah-salahkan.

10. Maka…., hanya orang bodoh saja yg menyalah-nyalahkan bangsa Indonesia. Dan orang seperti itu akan selalu ada di negeri ini. Mereka senang memakai kacamata buram, dan selalu hanya mencari kesalahan. Sebab sebagian orang menikmati rezekinya dgn cara demikian. Ada profesi bayaran untuk menciptakan ketidakstabilan atau ketidak percayaan. Ada juga yg menderita luka batin, kecewa, tak mendapat bagian, tidak dilayani atau pernah diberhentikan. Begitulah kehidupan demokrasi.

Begitulah pula orang mencari makan, mencari kehormatan, mendapatkan kompensasi mental atas kekecewaaannya atau membangun jati dirinya.

Sementara, Dunia justru sdg memuji betapa lihai dan pandainya pemimpin Indonesia.

11. Orang yg susah melihat bangsa ini senang sebagian mungkin memang mewarisi darah pengkhianat yang kalau ditelusuri ada DNA yg begitulah… yg membuat VOC bisa menjajah kita berabad-abad…

So, faktanya kini kita bisa menutup akhir tahun dengan banyak senyum. Saat ini kita bisa berlibur menikmati ribuan kilometer jalan baru baik antar kota maupun antar desa. Saat warga desa menyewakan homestaynya melalui platform airbnb dll. Saat kita merayakan banyak keberhasilan….

Salam akhir tahun… kita rayakan dengan senyum. “Allahu Akbar”.

(mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here