Kisah Pasukan Elite Polisi Menyerbu Markas RPKAD Cijantung

0
362

POLICELINE.  Pada Rabu (12/12/2018) sekitar pukul 00.25, kantor Kepolisian Sektor (Polsek) Ciracas, Jakarta Timur dibakar dan dirusak segerombolan orang. Aksi perusakan ini diduga berkaitan dengan pengeroyokan Kapten Laut Joko oleh sejumlah tukang parkir di ruko Arundina, dua hari sebelumnya. 

Kapolres Jaktim Kombes Pol. Tony mengatakan, Selasa (11/12/2018) pada pukul 19.00 pelaku pengeroyokan akan ditangkap maksimal dalam dua hari. Mereka akan diproses sesuai hukum yang berlaku. Tony menyampaikan itu di hadapan 300 orang tentara dari tiga matra yang sengaja datang untuk meminta klarifikasi. Namun apa yang disampaikan Tony tak membuat tentara puas.

Sampai pada akhirnya muncul kejadian pengerusakan kantor Polsek Ciracas pada malam itu. Pihak polisi sendiri belum memastikan siapa para pelakunya, termasuk belum memastikan kemungkinan keterlibatan anggota TNI dalam insiden tersebut. Namun, kejadian ini mengingatkan dengan peristiwa penyerbuan Markas RPKAD 50 tahun silam oleh pasukan elite polisi.

Satu siang pada 1968, seorang sopir oplet mengantar seorang penumpang ke pos jaga ksatriaan pasukan paramiliter Angkatan Kepolisian, Kelapa Dua, Depok. Sopir oplet kemudian pingsan setelah membawa penumpang yang sudah tak bernyawa. Sopir oplet sempat bercerita bahwa penumpang yang dibawanya ditembak dari jarak dekat oleh anggota Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD)—kini bernama Kopassus.

Penumpang yang meninggal itu adalah salah satu anggota dari pasukan paramiliter kepolisian, satuan yang kala itu cukup ditakuti, yaitu Resimen Pelopor (Menpor). Seperti dicatat Anton Agus Setiyawan dan Andi M. Darlis, dalam Resimen Pelopor, Pasukan Elite yang Terlupakan (2011), anggota Menpor yang terbunuh itu berasal dari kompi F dan baru saja lulus pendidikan. Laporan terbunuhnya anggota Menpor sampai juga ke telinga Wakil Komandan Menpor, Ajun Komisaris Besar Polisi Soetrisno.

Serbuan ke Markas Cijantung

Setelah kejadian itu, Wakil Komandan Menpor, Ajun Komisaris Besar Polisi Soetrisno pun bereaksi. Ia memerintahkan kompi A, Kompi B dan Kompi D untuk bersiap dengan peralatan tempur untuk menyerang Markas RPKAD. Sebagai satuan elite, Menpor punya peralatan senapan yang tidak main-main. Menpor juga dibekali senapan serbu AR-15, seperti yang dimiliki RPKAD. Senapan serbu AR-15 memiliki lima magazen yang tiap magazennya berisi 15 peluru tajam.

Hot Line:  Polri-Kepolisian Ukraina Tingkatkan Kerja Sama Keamanan Siber

Pasukan dari tiga kompi yang dipimpin Soetrisno dipecah menjadi peleton-peleton. Pasukan ini bisa dibilang siap mati. “Mereka diperintahkan untuk menduduki Cijantung yang merupakan markas sekaligus asrama RPKAD. Sementara kompi lain diperintahkan bersiaga mengantisipasi serangan balasan,” tulis Anton dan Andi. Dalam bukunya, kedua penulis ini tak mencantumkan tanggal dan bulan insiden penyerangan RPKAD oleh Menpor.

Kawasan Cijantung sejak awal 1960-an sudah menjadi sarang dari pasukan elite baret merah bernama RPKAD. Cijantung dengan Kelapa Dua tidak berjauhan. Anggota pasukan khusus tidak masalah berjalan kaki sebelum menyerbu.

Peleton pertama yang mencapai Cijantung berhasil menyusup setelah memotong pagar kawat di belakang markas RPKAD. Seperti ditulis dalam buku Resimen Pelopor, Pasukan Elit yang Terlupakan, dua kompi Menpor dalam hitungan menit berhasil memasuki markas RPKAD dan satu kompi menjaga di luar area.

Namun, Markas RPKAD di Cijantung  telah dikosongkan oleh RPKAD. Pasukan Menpor cukup lama menduduki Markas RPKAD, Cijantung, hingga pagi di hari berikutnya.

Perkara itu pun sampai juga ke telinga Panglima KODAM Jakarta Raya (Jaya) Mayor Jenderal Amirmachmud. Amirmachmud segera bergegas ke Cijantung dengan menggunakan tank. Ia memerintahkan agar para anggota Menpor keluar dari Cijantung.

“Bagaimana, Pak Tris? Pangdam Jaya ditembak, tidak?” tanya salah seorang anggota Menpor, namun Soetrisno beri perintah menunggu. Namun Amirmachmud tak bisa meluluhkan kekerasan hati anggota Menpor itu.

Namun, sosok yang berhasil meluluhkan para Menpor itu adalah Anton Soedjarwo, komandan resimen mereka. Anton kala itu tidak sempat tidak tahu gerakan anak buahnya ke Cijantung karena tak berada di tempat. Setelah mendapat perintah bubar oleh Anton, anggota-anggota Menpor akhirnya membubarkan diri. Nyawa Amirmachmud pun selamat. Pendudukan Markas RPKAD Cijantung oleh Menpor salah satu jejak sejarah militer Indonesia.

Rupanya masalah belum selesai. Anton dan Andi dalam bukunya mencatat, seminggu kemudian ada berita anggota RPKAD yang pulang dari cuti diculik oleh Menpor berbaju preman dengan naik truk yang platnya diganti. Aksi Menpor itu rupanya didukung oknum dari Batalyon 530 Brawijaya yang sedang berada di Jakarta. Cerita ini tentu jadi makin rumit dan terkesan aneh. Batalyon 530 adalah batalyon infanteri yang cukup elite dari Angkatan Darat. Itu batalyon konon pinjamkan tank.

Hot Line:  Kapolri Ingatkan FBI Pentingnya Telusuri Aliran Dana Teroris

Persoalan perselisihan pasukan elite RPKAD dan Menpor juga dicatat oleh Julius Pour dalam Benny: Tragedi Seorang Loyalis (2007:337). Insiden ini tidak dimuat media massa kala itu.

“Pada kasus ini Dading (Kalbuadi) diminta menyelesaikannya dengan Anton Soedjarwo, karena mereka sahabat lama,” tulis Pour.

Dading adalah perwira korps baret merah, yang merupakan kawan dari Benny Moerdani. Cerita pendudukan Markas RPKAD oleh pasukan Menpor ini lebih sering jadi cerita lisan di kalangan Menpor dan keluarganya.

                                   

Dua Pasukan Elite

Para anggota Menpor yang terlatih ala Ranger Amerika itu kini tinggal sejarah. Dulu kemampuannya di atas Brigade Mobil (Brimob). Menurut Commando Volume IX Edisi Nomor 5 (2013:26), para personel Menpor awalnya sempat dikirim bergelombang (1955;1959;1960) untuk digembleng pasukan Special Force dan Marinir Amerika Serikat.

Menurut catatan Moehamad Jasin dalam memoarnya, Memoar Sang Polisi Pejuang: Meluruskan Sejarah Kepolisian Indonesia (2010:184-185), menyebut pada 1953 ada 20 Mobrig (nama lama Brimob) yang ada di Filipina. Pasukan ini pernah diuji coba di Pegunungan Cirebon, Jawa Barat, melawan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).

“Saya mengirim satu regu Mobil Brigade yang dipimpin Andi Abdurachman […] pasukan Mobil Brigade berhasil membunuh pemimpin gerombolan,” kata Moehamad Jasin dalam Memoar Sang Polisi Pejuang: Meluruskan Sejarah Kepolisian Indonesia(2010:184-185). Saat aksi penumpasan PRRI/Permesta di era 1950an, pasukan elite ini juga dilibatkan.

Markas pasukan Menpor berada di Kelapa Dua sejak awal 1960-an. Keberadaan markas Menpor tidak berselisih jauh dengan keberadaan RPKAD di Cijantung. Komandan Menpor yang terkenal adalah Anton Soedjarwo, sejak menjadi Komisaris Polisi II, belakangan Soedjarwo pernah jadi Kapolri.

“Awal 1964, Anton Sudjarwo meningkat tanggung jawabnya, ketika Batalyon Pelopor 1232 diperluas menjadi Resimen Pelopor penuh (Menpor). Markas resimen tetap di Kelapa Dua,” tulis Ken Conboy dalam Elite: The Special Forces of Indonesia, 1950-2008 (2008:137).

Hot Line:  Polisi Respons Cibiran Soal Massa Reuni 212 Hanya 40 Ribu

Kawasan Kelapa Dua pada akhir 1961 sudah menjadi asrama bagi Batalyon 1232. Pasukan itu berkembang terus sebagai pasukan elite di masa Presiden Sukarno. Di awal Soeharto berkuasa, pasukan ini masih ada. Resimen ini lalu dikebiri dan pada zaman Soeharto Angkatan Kepolisian tak pernah punya lagi pasukan jago tempur seperti Menpor.

Kini, kepolisian hanya punya Brimob. Sementara itu RPKAD terus berkembang, meski berganti nama jadi Puspassus, Kopassandha dan Kopassus. Kekuatan Kopassus kini tak hanya batalyon-batalyon saja tapi sudah grup-grup, yang namanya masih disegani sebagai pasukan elite.

 
(tir/pet/dra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here