Separatisme, Tugas TNI Menumpas OPM

0
109
Ilustrasi/net

 Oleh: Selamat Ginting

Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)? Bagi saya aneh, media massa ikut-ikutan menggunakan istilah yang dibuat Polri. Wartawan itu harus menggunakan istilah sesuai nama lembaga tersebut. Mereka adalah Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Ya, sebut dengan istilah OPM bukan KKB. Sama juga dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Bukan dengan sebutan GPK (gerakan pengacau keamanan).

Gerakan mereka (OPM) jelas ingin memerdekakan diri sejak 1963. Mereka melakukan aksi separatisme ingin melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kata ‘merdeka’ menjelaskan mereka ingin lepas dari Ibu Pertiwi. Senjata mereka juga standar militer, bukan golok atau senjata rakitan. Ini pemberontak, kok disebut KKB? ANEH!

Urusan separatis dan tindakan teror (terorisme) bukan dalam ranah kriminal. Itu tugas militer untuk menumpasnya. Bukan urusan polisi yang urusannya keamanan dalam negeri atau keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Saya juga tidak habis pikir, mengapa pembangunan jalan dan jembatan di Nduga, Papua, tidak dituntaskan oleh TNI? Mengapa militer dalam hal ini satuan Zeni hanya untuk pekerjaan awal dan pertengahan saja? Mengapa pekerjaan itu dikembalikan kepada Kementerian PUPR dan dikerjakan oleh perusahaan swasta atau BUMN?

Tentu saya merasakan duka mendalam bagi pekerja yang tewas dibantai OPM saat membuat jembatan di Nduga. Mendoakan semoga Allah memberikan yang terbaik bagi almarhum.

Saya tiga kali meliput pembangunan jalan trans Papua sejak era Presiden SBY hingga Presiden Jokowi. Meliput di Papua, saya melindungi diri dengan rompi anti peluru di dalam jaket. Pinjam milik TNI. Saya tahu situasinya masih tidak aman. Ancaman serangan bersenjata bisa terjadi kapan saja dan itu di depan mata. Tidak terlihat fisiknya, karena ini perang gerilya. Mereka menyatu dengan penduduk lokal yang secara fisik sama.

Hot Line:  Habib Rizieq Syihab dalam Cengkeraman Intelijen

Jika satuan Zeni yang bekerja, maka ada pembagian tugas untuk yang bekerja membuat jalan dan jembatan serta pengamanan berlapis. Semuanya membawa senjata dengan peluru tajam siap tempur. Medan jalan pembangunan trans Papua berada di hutan dan di ketinggian di atas 3.000 meter di atas laut. Medan yang sangat berat, baik iklim maupun topografinya.

Almarhum ayah saya pernah bercerita saat membangun lapangan terbang di Papua pada 1972-1973 (selama 1,5 tahun). Tugas ke Irian Jaya saat itu juga sangat berat. Pasukan TNI diturunkan dari pesawat dengan terjun payung. Ada juga yang jalan darat dan berenang serta menggunakan perahu dari sungai.

Peralatan kerja juga diturunkan menggunakan parasut dari pesawat. Setelah enam bulan bekerja, barulah ada kiriman logistik untuk makan. Mereka seperti menyerahkan nyawanya untuk negara. Demi membangun Papua tercinta.

Usai bertugas, tidak mendapatkan uang seperti bayangan banyak orang. Hanya pita tanda jasa atau satyalancana Gerakan Operasi Militer (GOM). Dan itu tidak ada uangnya sama sekali. Mereka bekerja dan bertempur dengan ikhlas.

Kini saatnya, pemerintah kembali menugaskan TNI untuk bekerja dan bertempur memburu OPM. Sekali lagi OPM, bukan kelompok kriminal bersenjata. (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here