:Untuk Maha Guru, R.Mas Kanjeng Pertiwi
Poem by: Ferry Arbania

Bagai mata pedang
yang menajam
Kau lumpuhkan suka cita
dengan rahasia keangkuhan
merobek indahnya kebersamaan
Dari angkara yang tumbuh diakar flamboyan

Malam itu,
langit raudlatul iman
serasa runtuh dinadiku,
Air mata bertasbih
membangun gelombang pengharapan,
Meski pada akhirnya terhempas dalam perbedaan.

Raut wajah
yang tak henti khusuk menabik salam, membangun dzikir dalam sangkar hijab,
Tawassul dan kecintaaan laut pada angin,
Tuhan tenggelamkan dendam pada cinta

Hingga suatu malam
Pria setengah baya mengajakku diskusi tentang pengorbanan.

“Beribu ampun, karena aku hanya mampu mengantarkan pelayaran ini sebelum dermaga. kuingin kau selalu tangguh dan tak berhenti sampai disini”, ucapnya lirih sambil meneteskan air mata.

Dan aku sadar,
bahwa air mata
yang terlahir malam itu,
kini telah menjadi saksi
perjalanan cinta,
dari Tuhan
yang tak pernah
kehilangan peran.

Terimakasih guruku
seluas samudera,
Jasamu telah. menentramkan hidup,
Meski sesekali harus membendung luka,

kutulis pengorbananmu
menjadi langkah perjuangan ini
sampai usia menutup mata,
“kita berjumpa dikebun surga”.

Keraton Sumenep, 212- 2018

Hot Line:  Semalam dikamar facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here