Mengapa perlu lebih banyak puisi di ruang publik?

0
160

Redaksi Licentia Poetica Di bulan Oktober 1963, John F Kennedy berpidato yang banyak dikutip. Ujarnya, ketika kekuasaan cenderung membawa manusia pada kepongahan, puisi menyadarkan keterbatasan. Ketika kekuasaan menyempitkan perhatian agar terfokus, puisi mengingatkan akan luasnya dunia batin. Ketika kekuasaan mengotorkan jiwa, puisi membersihkan.

Segera terbit buku puisi, esai dan respon dalam bahasa Inggris, tebal lebih dari 800 halaman:

Restoring Poetry to the Public Arena, A Collection of Selected Poems and Literary Essays by Denny JA, Accompanied by Critical Notes by Noted Scholars.

Nate, pembaca puisi Indonesia, warga Amerika Serikat, selama setahun menerjemahkan puluhan puisi, esai sastra Denny JA, serta respon para ahli sastra dalam dan luar negri atas puisi itu. Benang merah baik puisi ataupun esai di buku itu adalah sebuah ikhtiar. Ialah puisi kembali perlu dibawa ke tengah gelanggang mewarnai ruang publik. Pemimpin perlu lebih banyak membaca dan merenungkan puisi.

Ini buku Denny JA yang diterbitkan ke 54 judul. Sejak mahasiswa Denny JA sudah menulis dengan perhatian luas pada isu politik, filsafat, agama, entrepreneurship, psikologi positif dan sastra.

(Penerbit)

Hot Line:  Bangkitnya Civil Society Dunia Sastra?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here