Tetiba dan gegara

0
205

Dalam tata bahasa kita, pembentukan kata seperti ini disebut “dwipurwa”, yakni pengulangan sebagian atau seluruh suku awal sebuah kata. Menurut buku Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia (Kridalaksana, 2007), dwipurwa selalu menghasilkan nomina (kata benda) dengan makna sebagai berikut:

Jamak: nomina > nomina. Contoh: daun > dedaunan; pohon > pepohonan.
Makna tidak berubah: nomina > nomina. Contoh: laki > lelaki; tamu > tetamu.
Yang dianggap: adjektiva (kata sifat) > nomina. Contoh: luhur > leluhur; tua > tetua.
Sekarang, mari kita lihat “tetiba” dan “gegara”. Kata “tiba” adalah verba (kata kerja), sedangkan “tiba-tiba” adalah adverbia (kata keterangan). Kata “gara” di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dirujuk kepada kata “gahara” (nomina), sedangkan “gara-gara” dapat berperan sebagai nomina (misalnya, “Kamu mencari gara-gara?”) atau konjungsi (misalnya, “Saya terlambat gara-gara hujan”).

Pola verba > adverbia pada “tetiba” dan nomina > konjungsi pada “gegara” belum memiliki preseden dalam bahasa Indonesia. Pola yang memiliki preseden adalah nomina > nomina tanpa perubahan arti pada “gegara”. Namun, kata “gara” yang berdiri sendiri tidak bermakna apa pun.

Oleh sebab itu, “tetiba” dan “gegara” bukanlah bentukan yang sahih dalam bahasa kita saat ini. Walaupun begitu, sesuai dengan sifat bahasa yang dinamis, tidak tertutup kemungkinan bentukan semacam ini akan diterima di kemudian hari.***

#beritagar

Hot Line:  Ketum PWI Jadi Sorotan Warganet

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here