Majelis Pers Mengutuk Kekerasan Terhadap Wartawan Tangsel

0
176

POLICE LINE: Pengusiran terhadap seorang wartawan kembali terjadi. Kali ini menimpa seorang jurnalis media online dradioqu.com. Dimana Insident yang melucuti profesi wartawan ini terulang di kawasan Tangerang Selatan, tepatnya di dalam Kantor Kelurahan Pondok Kacang Timur.

Awal kejadian sekitar pukul 11.00 wib, 30 November 2017, pada saat wartawan yang sekaligus kepala biro pemberitaan dradioqu.com (sebut R) ingin melakukan konfirmasi terkait laporan dari beberapa warga tentang Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) yang di duga dikenakan biaya Rp. 3Jt per pendaftar.

Semula, pengakuan wartawan R, dirinya bersama rekan media online lainnya, sebut A yang juga dari media Postnews.co.id ingin mencoba mencari kebenaran sumber terkait PTSL ke Lurah maupun Sekel. Namun yang diperoleh perlakuan tidak menyenangkan.

“Saya bertanya pada staff kelurahan tersebut, mana pak lurah dia menjawab tidak ada, saya tanya lagi lalu sekel mana juga tidak ada dan kasie pemerintahan mana juga tidak ada, lalu siapa yang bisa kami konfirmasi,” ungkapnya.

Dalam keterangannya ke awak media, R mengatakan, “Tugas kami adalah mengkonfirmasi kebenaran, bukan mencari permusuhan dan membongkar borok instansi aparatur kelurahan,”.

Menurutnya, munculnya chaos lantaran adanya arogansi pihak oknum kelurahan hingga harus terjadi adu mulut dan memancing emosial. “Ia (oknum staft kelurahan) kepada saya dengan keras bicara bahwa dirinya tidak takut dan banyak wartawan yang bersahabat dengannya,” jelas R.

Bukan hanya sampai disitu, lanjut R (wartawan), dirinya ditarik dan di piting lehernya bahkan sampai ada suara keras untuk duel dilapangan Kelurahan.

“Oknum staft Kelurahan memiting leher saya, menarik saya dan mengajak duel dengan saya. Dia lakukan hal itu didepan orang banyak dan didepan temen temen wartawan yang ada di Kelurahan,” papar R.

Hot Line:  Korupsi Kondensat Senilai Rp 35 Triliun Mangkrak, Wajah Polri Makin Buruk

Insident yang menjadi tragedi memalukan itu sempat diredam oleh Hasbullah selaku Kasi di Kelurahan Pondok Kacang Timur. Namun sayangnya, wartawan R dan temannya A sudah diperintahkan balik kanan oleh pimpinan redaksinya setelah beberapa menit kejadian.

Atas aksi premanisme oknum Kelurahan Pondok Kacang Timur, saat itu juga dilaporkan ke Pemred R dan A.

“Saya sempat menghubungi pimred saya dan kami diminta balik kanan untuk menghindari bentrokan fisik,” kata R.

Penyelesaian konflik tersebutpun berlangsung setelah pimpinan redaksi dari 2 media online yang di dampingi sekretaris executive Majelis Pers mendatangi kediaman Lurah dan diarahkan ke Hasbullah sebagai Kasi Kelurahannya.

Meski sudah terjadi kesepakatan permintaan maaf dari Hasbullah, namun pihak wartawan R dan A masih menunggu itikad baik dari oknum staft Kelurahan Pondok Kacang Timur untuk meminta maaf secara tertulis dan tentunya ada sanksi – sanksi proses hukum yang harus dijalaninya.

Sebagai fungsinya, Opan selaku Ketua Setnas Forum Pers Independent Indonesia (FPII) dan juga sebagai Sekretaris Executive Majelis Pers menegaskan, meski sudah adanya permintaan maaf yang diwakili Hasbullah ke wartawan R dan A, namun proses hukum tetap akan ditempuhnya untuk oknum staft Kelurahan Pondok Kacang Timur sebagai efek jera.

“Profesi kami bukan profesi kacangan, kami adalah product etika dan sebagai kontrol sosial yang menjadi satu bagian dari pilar ke 4 (empat). Jadi ini akan menjadi pelajaran berharga bagi para oknum dan pelaku yang dengan sengaja melakukan diskriminasi, tindak kekerasan dan penghinaan terhadap profesi wartawan,” pungkas Opan.

Menanggapi aksi premanisme ini, Sekjen Majelis Pers (MP) Bpk. Ozzy S. Sudiro menyatakan, pada dasarnya memberi dukungan penuh atas upaya-upaya yang di tempuh dan beliau menyarankan agar mengedepankan Kode Etik dan tetap pada koridor hukum yang berlaku.

Hot Line:  3 tahun Ditangani Polda Jatim, Kasus PBB gratis Bupati Sumenep Terancam Diambil Alih KPK

(Team Media MP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here