Ilustrasi korban perkosaan/net

Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian menyatakan dalam kasus pemerkosaan, terkadang polisi harus bertanya kepada korban, apakah merasa baik-baik saja setelah diperkosa dan apakah selama pemerkosaan merasa nyaman.
“Pertanyaaan seperti itu yang biasanya ditanyakan oleh penyidik sewaktu dalam pemeriksaan, untuk memastikan, apakah benar korban diperkosa atau hanya mengaku diperkosa, untuk alasan tertentu,” jelas Tito.
Dalam percakapan dengan BBC Indonesia, Jenderal Tito mengatakan bahwa Indonesia saat ini ada di persimpangan jalan, sebagai negara demokratis yang menjunjung tinggi kebebasan, membuat terkadang polisi dihadapkan pada dilema antara menegakkan hukum dengan menjaga ketertiban sosial.

Dalam wawancara dengan BBC Indonesia, Tito juga angkat bicara tentang tuduhan kesewenang-wenangan Polri dalam pemidanaan kelompok LGBT, terutama adanya dugaan pertanyaan tendensius yang melecehkan secara seksual.
__________________________________________________________________
Penjelasan tentang pertanyaan penyidik terkait perkosaan – Kapolri Jenderal Tito Karnavian
Kapolri Jenderal Tito Karnavian memberikan penjelasan lebih lanjut kepada BBC Indonesia menyangkut pertanyaan yang bisa diajukan penyidik untuk korban perkosaan. Berikut penjelasannya.
1. Unsur pidana perkosaan dalam Pasal 285 KUHP adalah adanya kekerasan atau ancaman kekerasan, dan memaksa perempuan yang bukan istrinya bersetubuh. Dengan unsur-unsur tersebut, maka variabel penentu untuk mengkualifikasi ada tidaknya suatu tindak pidana perkosaan adalah pada unsur consent/persetujuan kedua belah pihak.
2. Istilah “nyaman” dan “tidak nyaman” adalah diksi dan bahasa operasional yang digunakan oleh penyidik untuk bertanya dalam proses pemeriksaan untuk mencari tahu ada atau tidaknya persetujuan. Karena itu tidak ada maksud reviktimisasi terhadap pelapor/korban perkosaan.
3. Perlu diketahui, banyak kasus laporan perkosaan yang dilatarbelakangi oleh praktik ingkar janji pasangan untuk menikahi. Jika kasusnya seperti ini, maka itu bukanlah bentuk tindak pidana perkosaan melainkan ingkar janji/penipuan. Dalam diskursus tentang kekerasan terhadap perempuan, praktik ingkar janji dalam masa pacaran adalah salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan yang juga harus ditangani secara hukum.
4. Demikian juga kasus perkosaan adalah jenis tindak pidana yang perlu penanganan khusus, termasuk memastikan akurasi dan ketersediaan bukti dalam rentang waktu yang cukup lama dari proses in take hingga penyidikan dan penuntutan. Karena itu kebutuhan memastikan adanya consent atau tidak consent menjadi pelindung bagi mereka yang benar-benar menjadi korban kekerasan.
___________________________________________________________________
Pada tahun 2017, hingga pertengahan Oktober, polisi tercatat setidaknya enam kali menindak kelompok LGBT. Penggerebekan terakhir terjadi di sebuah spa yang diduga khusus gay, di Jakarta Pusat. Polisi telah menetapkan enam tersangka dengan menggunakan UU 44/2008 tentang Pornografi.

Saat menerima Tim BBC Indonesia yang terdiri dari Rebecca Henschke, Haryo Wirawan, dan Abraham Utama di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (18/10), Tito Karnavian menjawab juga sejumlah pertanyaan terkait wacana pembentukan Densus Tindak Pidana Korupsi yang ditentang Wakil Presiden Jusuf Kalla dan kasus penyerangan penyidik KPK Novel Baswedan yang tak kunjung tuntas.
Berikut petikan wawancara khusus tersebut.

Belakangan ini semakin polisi kerap menindak kelompok LBGT, apa dasarnya?
Kepolisian hanya menegakan hukum, selama peraturan telah disahkan, kami harus menegakkannya.
Namun homoseksualitas tidak melanggar hukum Indonesia…
Tapi tindakan pornografi secara eksplisit dilarang. Menunjukkan tubuh telajang di muka publik merupakan bagian pornografi dan dapat dipidanakan.

Tapi komunitas LBGT menyebut klub yang digrebek polisi tidak terbuka untuk umum?
Orang-orang membayar untuk masuk ke sana, setiap orang bisa masuk dan bergabung. Itu terbuka untuk publik meskipun dalam komunitas spesifik. Tapi jelas itu bagian dari pornografi dan masuk perbuatan pidana.

Mereka mengaku polisi melecehkan seksualitas mereka?
Saya tidak membenarkan bawahan saya melakukan itu. Mereka harus profesional menjalankan rule of law dan tidak seharusnya melampaui prinsip itu.

Informasi itu akan saya tindaklanjuti ke investigasi internal.
Namun di sisi lain, Indonesia memiliki peraturan yang tegas tentang pornografi. Indonesia bukan Australia, Inggris atau Amerika Serikat. Kami punya budaya tersendiri. Di negara Barat, gay dan lesbian mungkin bukan persoalan, tapi di Indonesia, ini adalah isu yang sangat sensitif.
Bukankah Presiden Jokowi bilang kita harus melindungi kelompok minoritas?

Indonesia saat ini ada di persimpangan jalan, sebagai negara yang religius menuju negara demokratis yang menjunjung tinggi kebebasan. Terkadang ini menjadi hal dilematis bagi kepolisian karena kami tidak hanya menegakkan hukum tapi juga menjaga ketertiban sosial dan budaya.

Tidak semua peraturan yang ada saat ini memastikan dijaganya kepentingan publik. Polisi juga kadang-kadang harus mengambil diskresi untuk merespon situasi yang mengancam ketertiban sosial.
Polisi terlihat seperti menentukan sendiri hal benar dan yang salah?
Kami hanya menegakkan UU Antipornografi karena memperlihatkan tubuh telanjang merupakan perbuatan pidana. Mudah saja bagi kami, karena hukum memang melarangnya.

Dalam interogasi, beberapa polisi disebut berpura-pura memperagakan hubungan seks sesama jenis untuk melecehkan komunitas gay yang ditangkap. Apa tindakan anda?
Tergantung, apakah para polisi itu memang benar-benar telah melanggar kode etik. Ada badan internal kepolisian yang akan memutuskan itu. Kami memiliki sejumlah opsi hukuman untuk perbuatan semacam itu. Hukuman itu ada yang bisa merusak karir si penyelidik.

Masalahnya adalah, apakah ada pertanyaan sensitif yang diajukan penyelidik dalam penyelidikan?
Sebagai investigator, mereka harus memahami kedalaman dan sifat penyelidikan, pidana dan tuduhan itu. Terkadang polisi dapat dan terkadang harus, mengajukan pertanyaan sensitif untuk mendapatkan gambaran utuh dari perbuatan pidana yang dituduhkan.

Misalnya dalam kasus pemerkosaan, terkadang polisi harus bertanya kepada korban, apakah Anda merasa baik-baik saja setelah diperkosa?
Pertanyaan semacam itu sangat penting. Jika saya diperkosa, bagaimana perasaan saya selama pemerkosaan, apakah nyaman? Jika nyaman, itu bukan pemerkosaan.

Lanjutkan disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here